Eksploitasi vs Konservasi: Menjaga Masa Depan Pesisir Selatan Gunungkidul melalui Penegakan Hukum Lingkungan dan Tata Kelola Sampah Berkelanjutan

Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya investasi di sektor pariwisata telah mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pembangunan hotel, restoran, kawasan wisata, hingga infrastruktur pendukung. Namun di balik perkembangan tersebut, muncul tantangan besar berupa meningkatnya tekanan terhadap ekosistem pesisir, pelanggaran tata ruang, serta persoalan pengelolaan sampah yang memerlukan perhatian serius.

EKONOMI - LINGKUNGAN SOSIAL

RADAR BAHARI

7/23/20263 min read

YOGYAKARTA, 23 Juli 2026 – Pesisir selatan Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu kawasan strategis yang memiliki nilai ekologis, sosial, budaya, dan ekonomi yang sangat tinggi. Keindahan bentang alam karst, pantai-pantai eksotis, serta kekayaan biodiversitas laut menjadikan kawasan ini sebagai destinasi wisata unggulan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya investasi di sektor pariwisata telah mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pembangunan hotel, restoran, kawasan wisata, hingga infrastruktur pendukung. Namun di balik perkembangan tersebut, muncul tantangan besar berupa meningkatnya tekanan terhadap ekosistem pesisir, pelanggaran tata ruang, serta persoalan pengelolaan sampah yang memerlukan perhatian serius.

Yayasan Garda Bahari Hijau memandang bahwa pembangunan pariwisata dan pelestarian lingkungan bukanlah dua kepentingan yang harus dipertentangkan. Sebaliknya, keduanya harus berjalan secara seimbang melalui prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang mengedepankan kepatuhan terhadap hukum lingkungan, perlindungan hak masyarakat pesisir, dan konservasi sumber daya alam.

Potensi Positif Investasi Pariwisata bagi Gunungkidul

Investasi yang dikelola secara bertanggung jawab mampu memberikan manfaat yang signifikan bagi pembangunan daerah maupun kesejahteraan masyarakat pesisir. Beberapa dampak positif yang dapat dirasakan antara lain:

1. Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Aktivitas investasi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pajak hotel, restoran, retribusi wisata, serta berbagai aktivitas ekonomi lainnya yang berkaitan dengan sektor pariwisata.

2. Membuka Lapangan Kerja Baru

Perkembangan destinasi wisata mendorong tumbuhnya sektor perhotelan, kuliner, transportasi, jasa pemandu wisata, hingga industri kreatif yang mampu menyerap tenaga kerja lokal.

3. Mengembangkan UMKM Masyarakat

Pelaku usaha mikro dan kecil memperoleh peluang pasar yang lebih luas melalui penjualan produk kuliner khas, hasil perikanan, kerajinan tangan, hingga jasa wisata berbasis masyarakat.

4. Percepatan Infrastruktur

Pembangunan akses jalan, jaringan listrik, telekomunikasi, dan fasilitas publik lainnya memberikan manfaat tidak hanya bagi wisatawan tetapi juga bagi masyarakat sekitar.

Tantangan Lingkungan yang Perlu Mendapat Perhatian

Di sisi lain, pertumbuhan investasi yang tidak disertai pengawasan yang memadai berpotensi menimbulkan berbagai persoalan ekologis.

Pelanggaran Kawasan Sempadan Pantai

Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2016 tentang Batas Sempadan Pantai mengatur bahwa kawasan sempadan pantai memiliki fungsi perlindungan ekologis serta mitigasi bencana. Oleh karena itu, pembangunan permanen harus memperhatikan ketentuan tata ruang yang berlaku.

Apabila pembangunan dilakukan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan, berbagai risiko dapat muncul, seperti:

  • berkurangnya ruang publik masyarakat;

  • meningkatnya kerentanan terhadap abrasi dan gelombang ekstrem;

  • terganggunya habitat satwa pesisir;

  • menurunnya kualitas bentang alam pantai.

Ancaman Sampah dan Limbah Pariwisata

Meningkatnya jumlah wisatawan juga berdampak pada meningkatnya volume sampah, khususnya sampah plastik sekali pakai.

Tanpa sistem pengelolaan yang baik, sampah berpotensi mencemari laut, merusak ekosistem pesisir, serta mengancam kehidupan biota laut melalui akumulasi mikroplastik.

Selain itu, limbah domestik dari aktivitas pariwisata juga harus dikelola sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan agar tidak mencemari perairan laut maupun sistem air tanah kawasan karst.

Urgensi Pengelolaan Sampah Terpadu Berbasis Masyarakat

Yayasan Garda Bahari Hijau menilai bahwa pengelolaan sampah merupakan salah satu prioritas utama dalam pembangunan kawasan wisata pesisir.

Upaya tersebut dapat dilakukan melalui beberapa langkah strategis:

Membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST)

Ketersediaan TPST di kawasan wisata memungkinkan proses pemilahan, pengurangan, daur ulang, hingga pengolahan sampah dilakukan lebih efektif sebelum residu dikirim ke tempat pemrosesan akhir.

Penguatan Bank Sampah

Pembentukan bank sampah berbasis masyarakat dapat mendorong penerapan ekonomi sirkular, di mana sampah memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.

Edukasi Wisatawan

Kesadaran wisatawan menjadi faktor penting dalam menjaga kebersihan kawasan pantai. Edukasi mengenai pengurangan plastik sekali pakai, pemilahan sampah, dan etika berwisata perlu terus diperkuat.

Kolaborasi Multipihak

Keberhasilan pengelolaan sampah memerlukan sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, masyarakat, komunitas lingkungan, akademisi, serta organisasi masyarakat sipil.

Perspektif Yayasan Garda Bahari Hijau

Ketua Yayasan Garda Bahari Hijau, Andreas Pujiantoro, menegaskan bahwa pembangunan ekonomi harus selalu berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan hidup.

"Investasi merupakan bagian penting dalam pembangunan daerah. Namun investasi harus dilaksanakan dengan menghormati ketentuan hukum lingkungan, tata ruang, serta hak masyarakat pesisir. Pembangunan yang berkelanjutan adalah pembangunan yang mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa mengurangi kemampuan lingkungan dalam menopang kehidupan generasi mendatang."

Beliau juga menambahkan bahwa persoalan sampah di kawasan wisata memerlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan.

"Pengelolaan sampah tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah ataupun masyarakat. Pelaku usaha pariwisata juga memiliki tanggung jawab untuk berpartisipasi melalui penyediaan fasilitas pengelolaan limbah, edukasi kepada wisatawan, serta penerapan prinsip tanggung jawab lingkungan dalam operasional usahanya."

Menuju Pariwisata Pantai Selatan yang Berkelanjutan

Pesisir selatan Gunungkidul memiliki potensi besar untuk menjadi contoh pembangunan pariwisata yang berkelanjutan di Indonesia. Keberhasilan tersebut bergantung pada kemampuan seluruh pihak dalam menyeimbangkan kepentingan ekonomi, pelestarian lingkungan, serta kesejahteraan masyarakat.

Yayasan Garda Bahari Hijau mendorong penerapan prinsip Green Investment, yaitu investasi yang memperhatikan daya dukung lingkungan, mematuhi regulasi tata ruang, mengedepankan konservasi kawasan pesisir, serta memberikan manfaat yang adil bagi masyarakat lokal.

Melalui tata kelola yang baik, pengawasan lingkungan yang konsisten, dan kolaborasi berbagai pihak, kawasan pesisir selatan Gunungkidul dapat terus berkembang sebagai destinasi wisata kelas dunia tanpa kehilangan fungsi ekologis dan nilai-nilai keberlanjutannya.

Tentang Yayasan Garda Bahari Hijau

Yayasan Garda Bahari Hijau merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang advokasi lingkungan hidup, konservasi pesisir dan laut, pendidikan masyarakat, pemberdayaan komunitas, serta penguatan kebijakan publik menuju pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Yayasan membuka ruang kolaborasi bagi pemerintah, akademisi, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, komunitas, maupun masyarakat umum dalam berbagai program konservasi dan advokasi lingkungan.

Informasi dan Kolaborasi

Media Center – Yayasan Garda Bahari Hijau

Website
www.gardabaharihijau.org

Email
hallo@gardabaharihijau.org
gardabaharihijau@gmail.com

Hotline
+62 822-2500-8998

Bersama Yayasan Garda Bahari Hijau, mari kita wujudkan pengelolaan pesisir yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berpihak pada kelestarian lingkungan demi masa depan laut Indonesia.