OPINI & REKOMENDASI KEBIJAKAN YAYASAN GARDA BAHARI HIJAU
Menyelamatkan Masa Depan Gunungkidul: Mengurai Krisis Pendidikan di Tengah Pesatnya Investasi Pariwisata Pesisir. Bagi Yayasan Garda Bahari Hijau, kondisi ini merupakan isu strategis yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila investasi fisik berjalan beriringan dengan investasi terhadap kualitas manusia.
PENDIDIKAN


Media Center Yayasan Garda Bahari Hijau
GUNUNGKIDUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA — Kabupaten Gunungkidul saat ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata bahari unggulan nasional. Pertumbuhan investasi di sektor pariwisata pesisir, pembangunan infrastruktur, serta meningkatnya kunjungan wisatawan telah memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian daerah dan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Namun, di balik geliat pembangunan tersebut, terdapat persoalan mendasar yang tidak boleh diabaikan, yakni kualitas sumber daya manusia melalui sektor pendidikan. Memasuki Tahun Ajaran 2026/2027, berbagai indikator menunjukkan bahwa dunia pendidikan di Gunungkidul masih menghadapi tantangan serius, mulai dari menurunnya jumlah peserta didik di sejumlah sekolah, tingginya angka anak tidak sekolah, kekurangan tenaga pendidik, hingga keterbatasan layanan pendidikan inklusif.
Bagi Yayasan Garda Bahari Hijau, kondisi ini merupakan isu strategis yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila investasi fisik berjalan beriringan dengan investasi terhadap kualitas manusia.
Pendidikan Merupakan Fondasi Pembangunan Berkelanjutan
Sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang advokasi, pendidikan, lingkungan hidup, dan pemberdayaan masyarakat pesisir, Yayasan Garda Bahari Hijau memandang bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang menentukan masa depan daerah.
Pembangunan kawasan wisata yang terus berkembang membutuhkan sumber daya manusia lokal yang memiliki kompetensi, keterampilan, literasi digital, kemampuan berbahasa asing, wawasan lingkungan, serta daya saing tinggi agar masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan, bukan sekadar penonton.
Tanpa penguatan kualitas pendidikan, manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dikhawatirkan tidak akan dinikmati secara optimal oleh masyarakat lokal.
Empat Tantangan Utama Pendidikan Gunungkidul
Berdasarkan berbagai publikasi pemerintah, hasil kajian lapangan, serta analisis sosial yang dilakukan Yayasan Garda Bahari Hijau, terdapat empat tantangan besar yang memerlukan perhatian serius.
1. Menurunnya Jumlah Peserta Didik dan Fenomena Sekolah Minim Murid
Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 menunjukkan adanya sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan peserta didik secara signifikan. Bahkan terdapat sekolah yang tidak memperoleh peserta didik baru sehingga pemerintah daerah harus melakukan kebijakan regrouping atau penggabungan sekolah.
Fenomena ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
menurunnya angka kelahiran;
perpindahan penduduk ke wilayah perkotaan;
ketimpangan persebaran fasilitas pendidikan; serta
perubahan preferensi masyarakat terhadap sekolah tertentu.
Apabila tidak ditangani melalui perencanaan pendidikan jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memperlemah akses pendidikan terutama di wilayah pedesaan.
2. Angka Anak Tidak Sekolah Masih Menjadi Tantangan
Persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah.
Berbagai faktor yang mempengaruhi antara lain:
keterbatasan ekonomi keluarga;
pernikahan usia dini;
rendahnya motivasi melanjutkan pendidikan;
kondisi sosial keluarga; serta
akses pendidikan yang belum merata.
Di beberapa wilayah pesisir, sebagian remaja memilih memasuki dunia kerja lebih awal pada sektor informal guna membantu perekonomian keluarga.
Kondisi ini perlu menjadi perhatian agar pembangunan ekonomi tidak mengorbankan hak anak untuk memperoleh pendidikan yang layak.
3. Kekurangan Tenaga Pendidik
Gunungkidul juga menghadapi tantangan berupa keterbatasan jumlah guru, terutama akibat tingginya angka pensiun yang belum sepenuhnya diimbangi oleh rekrutmen tenaga pendidik baru.
Akibatnya:
beban mengajar meningkat;
distribusi guru belum merata;
beberapa sekolah mengalami kekurangan guru kelas; dan
kualitas layanan pendidikan berpotensi menurun.
Pemerataan tenaga pendidik merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan mutu pendidikan daerah.
4. Pendidikan Inklusif Masih Perlu Diperkuat
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) masih menghadapi berbagai hambatan dalam memperoleh layanan pendidikan yang optimal.
Tantangan tersebut meliputi:
terbatasnya guru pendidikan khusus;
keterbatasan sarana pendukung;
akses sekolah yang cukup jauh di beberapa wilayah; serta
kebutuhan peningkatan kapasitas sekolah reguler dalam menyelenggarakan pendidikan inklusif.
Pendidikan yang inklusif merupakan bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial dan memastikan tidak ada anak yang tertinggal.
Pandangan Yayasan Garda Bahari Hijau
Ketua Yayasan Garda Bahari Hijau, Andreas Pujiantoro, menilai bahwa pembangunan daerah harus dilihat secara utuh, tidak hanya melalui indikator pertumbuhan investasi, tetapi juga kualitas manusia yang akan mengelola pembangunan tersebut.
"Kemajuan pariwisata merupakan peluang besar bagi Gunungkidul. Namun pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada infrastruktur fisik. Pendidikan harus menjadi prioritas utama agar generasi muda memiliki kemampuan untuk menjadi pelaku utama pembangunan ekonomi daerah. Investasi terbaik sesungguhnya adalah investasi terhadap manusia."
Menurut Yayasan Garda Bahari Hijau, pembangunan ekonomi dan pembangunan sumber daya manusia harus berjalan secara beriringan agar manfaat investasi dapat dirasakan secara adil oleh masyarakat lokal.
Rekomendasi Kebijakan
Sebagai bagian dari fungsi advokasi kebijakan publik, Yayasan Garda Bahari Hijau menyampaikan beberapa rekomendasi yang diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan seluruh pemangku kepentingan.
1. Memperkuat Investasi Pendidikan
Mendorong peningkatan alokasi anggaran pendidikan, termasuk optimalisasi pemanfaatan pendapatan sektor pariwisata untuk:
beasiswa bagi keluarga kurang mampu;
peningkatan kualitas sekolah;
pengembangan laboratorium dan perpustakaan;
transformasi digital pendidikan.
2. Mengembangkan Pendidikan Berbasis Potensi Lokal
Sekolah-sekolah di kawasan pesisir perlu mengembangkan pembelajaran yang relevan dengan potensi daerah, seperti:
ekowisata;
konservasi pesisir;
ekonomi biru (Blue Economy);
kelautan;
kewirausahaan lokal;
pengelolaan sampah dan lingkungan hidup.
Dengan demikian lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan daerah.
3. Mempercepat Pemerataan Tenaga Pendidik
Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat diharapkan memperkuat:
distribusi guru;
rekrutmen tenaga pendidik;
peningkatan kompetensi guru;
pemberian insentif bagi guru di daerah terpencil.
4. Memperluas Pendidikan Nonformal
Pemerintah dapat memperkuat:
PKBM;
program Kejar Paket;
pendidikan vokasi masyarakat;
pelatihan keterampilan pemuda;
literasi digital;
pelatihan kewirausahaan pesisir.
Program tersebut penting sebagai alternatif bagi masyarakat yang tidak dapat menyelesaikan pendidikan formal.
5. Membangun Kemitraan Multipihak
Peningkatan kualitas pendidikan memerlukan kolaborasi antara:
pemerintah daerah;
perguruan tinggi;
dunia usaha;
organisasi masyarakat sipil;
komunitas pemuda;
sektor pariwisata.
Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui program magang, beasiswa, pelatihan kerja, hingga pengembangan inovasi pendidikan berbasis kebutuhan lokal.
Pendidikan sebagai Pilar Keberlanjutan Pembangunan
Keberhasilan pembangunan daerah tidak semata-mata diukur dari bertambahnya hotel, resort, jalan, maupun investasi yang masuk.
Keberhasilan pembangunan sesungguhnya tercermin dari meningkatnya kualitas hidup masyarakat, terbukanya kesempatan yang setara bagi generasi muda, serta hadirnya sumber daya manusia yang mampu mengelola kekayaan alam secara bijaksana dan berkelanjutan.
Gunungkidul memiliki potensi luar biasa sebagai kawasan wisata bahari kelas dunia. Namun potensi tersebut hanya akan menjadi berkah apabila masyarakat lokal memperoleh akses pendidikan yang berkualitas, kesempatan berkembang, dan ruang untuk menjadi pelaku utama pembangunan.
Yayasan Garda Bahari Hijau mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan pendidikan sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan. Sebab, investasi terbaik bukan hanya membangun kawasan wisata, melainkan membangun manusia yang cerdas, berkarakter, berdaya saing, dan memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Tentang Yayasan Garda Bahari Hijau
Yayasan Garda Bahari Hijau merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang advokasi kebijakan publik, konservasi lingkungan pesisir dan kelautan, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan budaya bahari. Yayasan berkomitmen mendorong pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan melalui kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
Media Center Yayasan Garda Bahari Hijau
Email
gardabaharihijau@gmail.com
hallo@gardabaharihijau.org
Telepon
+62 822-2500-8998
Website
www.gardabaharihijau.org
